bismillah, rasanya memang sudah agak lama saya tidak masuk dashboard blog ini. maklum, namanya mahasiswa, ngenetnya cuma kalo kuliah. kan ada free hotspot gitu... haha. sekarang pun sebenarnya libur, cuman sebagai 'calon mawapres' (: impian tanpa jalan, haha), saya sempet2in buat ziarah ke kampus. sepi sih, namanya juga liburan. iki malah ngomong opo to??! gini lah, berhubung masih ingin ngexsist di blog, setelah download freeware yang saya cari, saya mau share buat kawan - kawan. ini saya juga cuma kopas dari majalah kesukaan saya MAJALAH ELFATA di edisi 06 volume 10. kenapa saya kopas artikel itu? bukan bikin sendiri aja? alasannya :
1. ada kemiripan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan saya
2. ada juga kemiripan dengan lingkungan kampus saya
3. mungkin kita bisa ambil ibrah dari artikel ini, sarat manfaat insyaallah...
4. gak ada ide buat nulis sendiri, wahaha. ini alasan yang paling kuat!
baiklah tak usah memperpanjang bacaan ini dia artikel di salah satu rubrik di ELFATA eds 06 vol 10:
" Terkadang ada orang yang bilang kalau hidup itu tak adil. Terkadang aku rasakan demikian juga. Namun Alhamdulillah, prasangka yang demikian itu dengan mudah aku tepiskan. Di kampus, sebagai seorang mahasiswa yang biasa – biasa saja. Menjalani kuliah, membuat tugas, diskusi kelompok, presentasi dan ulangan. Untuk yang terakhir inilah (:ulangan) aku ‘terkadang’ merasa tak begitu nyaman. Aku yang belajar begitu keras (setidaknya itu menurutku) tak bisa membuahkan nilai yang maksimal. Di sisi lain, mereka yang malamnya malah begadang tak karuan, bisa dapat nilai yang bisa mereka banggakan. Ya, mungkin mereka bangga dengan nilai itu, tapi buatku, aku merasa malu bahkan hanya mendengar saja. Bukannya iri terhadap kesenangan yang diberikan ke orang lain, namun mereka mendapatkan kesenangan itu dengan cara – cara yang tidak halal. Nyontek.
Berawal dari sinilah, tiap ada waktu untuk belajar, aku gunakan waktu itu untuk belajar. Walaupun itu terasa aneh pada awalnya. Aneh, ketika besok tak ada ulangan tapi sekarang aku belajar. Itu kata – kata yang berasal dari temanku yang selalu mengajak begadang yang tak jelas. Dengan segera aku berusaha pudarkan kata – kata itu dari kepalaku, walaupun sulit memang. Bagaimana tidak, ketika teman – temanku ngumpul bareng disana, di sisi lain aku sibuk dengan laptop dan buku. Mereka bilang aku tak setia kawan. Mereka bilang kan besok hari yang nyantai,. Mereka bilang buat apa belajar nanti ujung – ujungnya dapat nilai pas – pasan juga?! Aku luluh oleh kata – kata itu. Aku merasa tak senang jika dikatakan tak setia kawan. Akhirnya niatku untuk belajar mulai sirna atas nama ‘pertemanan’ yang sebenarnya tak kuinginkan.
Ulangan datang lagi. Kali ini teman – temanku mau belajar. Belajar secara berkelompok. Kami belajar dari satu hal ke hal yang lain. Kita baru belajar hampir setengah bagian (banhakan tak sampai itu). Temanku mengeluh. “Kok sulit?” . Yang lain bilang. “Ah ini udah cukup”. Lalu ditambah yang lain. “yang penting besok kamu dekat sama aku”. Berkata lagi. “belajar tu dibikin enjoy, jangan serius - serius”. Bilang lagi. “sekarang belajar, besok ujung – ujungnya nyontek juga.”. Kata – kata bodoh dari mereka membuat panas kupingku. “kalo gitu maen kartu aja yuk”. Yang lain mengiyakan. Sebagian berkata kepadaku. “kamu belajar aja, tapi besok aku ajari ya”. Besoknya di kelas saat ulangan. Seperti biasa aku dicarikan tempat duduk yang dekat dengan mereka. Entahlah, kenapa mereka memilihku untuk dekat dengan mereka. Mereka pikir aku ini seorang yang cerdas dan jenius. Paling tidak itu yang kutangkap dari perlakuan itu. Sebenarnya aku tak demikian. Aku mahasiswa yang tak sempurna menangkap materi dari dosen. Kenapa mereka tak memilih orang lain yang lebih pintar dariku? Mungkin karena aku tak bisa menolak permintaan mereka. Aku tak kuasa menolak permohonan mereka saat butuh bantuan. Dan sekali lagi hasil ulangan tak memuaskan. Baik punyaku, juga sebagian dari mereka. Tapi ketika ulangan itu datang lagi hal yang sama bakal terjadi juga.
Bukannya aku tak mencoba untuk keluar dari kemaksiatan ini. Yaitu tolong menolong dalam kejelekan (member i contekan). Aku sudah berusaha. Misalnya datang agak telat. Sebenarnya nggak telat, hanya saja kalau ada ulangan sudah jadi kebiasan berebut masuk kelas untuk menempati posisi yang ‘nyaman’. Ini kulakukan agar tempat dudukku jauh dari mereka. Sehingga ada alasan kuat untuk tak ‘membantu’ mereka. Namun ketika ulangan usai. Temanku bilang. “ngapain duduk kamu jauh – jauh seperti tadi”. Aku terdesak. “teman kok kayak gitu”. Sekali lagi aku terdesak. “ulanganku kacau gara – gara kamu”. Kalau sudah seperti ini aku mau bilang apa?
Aku belum sanggup untuk bilang ‘tidak’. Kenapa kata itu sulit sekali keluar dari lidahku? Aku tahu itu tak benar. Aku tahu aku tak suka. Aku tahu itu dosa. Tapi kenapa hanya aku (dan Allah) yang tahu? Kenapa mereka tak mau mengerti? Kita hidup bukan hanya kuliah saja. Kita kuliah bukan hanya IP = 4 saja. Semua ada pertanggung – jawabannya. Kenapa kalian tak sadar juga? Kenapa kalian masih kekanak – kanakan untuk selalu jadi parasit buat orang lain? Tak mengakui kekukangan diri sendiri dan berusaha memperbaiki. Justru menyalahkan orang lain ketika cobaan datang. Bukankah kalian mahasiswa yang dibangga – banggakan itu? Mahasiswa yang lantang suaranya? Mahasiswa yang dielu – elukan sebagai generasi penerus bangsa. Tapi kenapa kalian seperti anak TK yang takut nilai jelek? Aku tak ingin nilai kalian (dan nilaku tentu saja) jelek. Tapi janganlah hanya ingin nilai bagus, lalu menghalalkan yang haram. Mungkin kalian bilang aku ini terlalu idealis. Janganlah bilang aku ini seperti itu kalau kalian tak punya prinsip hidup yang bisa kalian pegang. Buatku prinsip itu harus dijaga dan dipertahankan. Aku berdo’a agar Allah senantiasa memberi kemudahan buat kita.
Dan kini saatnya menempuh perjalanan yang baru. Setelah libur semester yang panjang ini aku yakinkan pada diriku sendiri untuk belajar berkata ‘tidak’. Saat mereka mengajak begadang, aku akan bilang “tidak”. Saat mereka bilang. “besok ulangan dekat sama aku, ya”. Aku berusaha bilang “tidak”. Atau kalau aku tak sanggup dengan itu semua, aku mencoba untuk menghindar dari mereka. Tapi aku masih sangat takut jika mereka bilang tak setia kawan. Lalu berkata “mau hidup sendiri, ya”. Kalimat yang lain “kalau kamu kesusahan siapa yang bakal menolong”. Ngomong lagi “teman kok kayak gitu”. Ah, itu semua hanya suara – suara yang begitu saja akan berlalu sesuai angin yang membawanya. Bukankah jauh dari orang – orang seperti itu yang aku inginkan? Paling tidak itu kalimat yang membuat senyumku berkembang lagi. Masa bodoh dengan sesembahan lain yang beratas-namakan ‘pertemanan’ itu. Itu bukan pertemanan. Tapi persekutuan untuk bermaksiat. Karena ku yakinkan bahwa itu merugikanku. Di dunia dan akhirat. Semoga Allah memudahkanku atas ini semua."
majalah elfata edisi 06 volume 10
0 komen mu:
Poskan Komentar