Judul : Selimut Mimpi
Penulis : Abu Umar Basyier
Penerbit : Shofa Media Publika
Tebal Buku : ix + 215
-------------------------------------------------------------
-------------------
--
-------------------------------------------------------------
-------------------
--
Bismilallah...
Alhamdulillah, setelah mencari buku “Selimut Mimpi” yang ternyata tak terlalu sulit mencarinya, dan kini sudah purna membaca buku tersebut. Dari Boyolali ke Solo hanya untuk membeli buku itu. Memang bukan perjuangan yang sangat melelahkan sih. Karena saya tahu. Pasti di boyolali juga belum ada buku itu. Emang buku baru sih, terbitan pertamanya baru Bulan Juli 2010. Bingung juga mau cari kemana? Soalnya toko buku Islam yang besar, yang lokasinya di Cemani, saya tak ingat lewat jalan yang mana. Sedangkan kalo di toko buku umum, belum tentu ada secepat itu. Akhirnya saya sms saja penerbitnya -Shofa- langsung, dan haha,, ternyata ada di toko buku belakang kampus saja. Padahal saat itu saya sudah pulang dari kampus dan sedang di toko buku yang posisinya di kota barat. Ternyata memang ada di toko buku Sarana Hidayah. Walaupun mungkin sebutan 'toko buku' kurang tepat, karena kalo toko itu identik dengan ruangan yang besar, tak seperti di Sarana Hidayah. Cukup dengan tempat yang minimalis, khas lahan – lahan usaha lain di sekitar kampus. Ukuran mungil, kebersihan terjaga -dari benda2 yang tak diinginkan-, tempat parkir yang cukup -setidaknya untuk beberapa motor saja- dan sangat harmonis tampaknya dengan kios usaha lain yang dibuktikan dengan kedekatan satu kios dengan kios lainnya. Subhanallah sekali. Jadi, kembali lagi, rasanya memang 'toko buku' lebih bagus jika diganti kios buku, atau mungkin warung buku, atau bisa juga angkringan buku? Hehe. Tapi walau gimanapun juga, disana banyak buku yang berkualitas dengan harga diskon yang menarik. Memang, selain tata ruang yang eksotik, banyak buku yang berkualitas, mulai dari buku fikih, aqidah, berbagai kitab rujukan dan juga mushaf Al Qur'an. Begitulah. Jadi terimakasih buat akh insan yang menunjukkan jalan ke toko buku sarana hidayah. Tapi ini kok malah ngobrol toko bukunya? Bukan bukunya?? hehe...
perbandingan tiga buku
sebelum melihat isi buku itu sendiri, kita lihat dulu perbandingannya dari dua buku Ust. Abu Umar sebelumnya. Yaitu “Sandiwara Langit” dan “Kemuning Senja di Beranda Mekah”. Ya, setelah sukses dengan dua buku tersebut -dan buku2 yang lain juga tentunya- ustadz menulis lagi kisah menakjubkan dari sepenggal episode kehidupan anak manusia. Kalo kita lihat ketiga buku tersebut, tampaknya memang ada persamaannya. Ketiganya bercerita tentang potongan jalan hidup tokohnya dalam mempertahankan aqidahnya. Dan tentu saja ada dua hal yang paling sensitif dalam perjalanan tiap manusia, yaitu pernikahan dan kematian. Begitulah... jadi memang hampir mirip. Cuma bedanya, dua buku seniornya lebih mengedepankan penemuan cinta sejati -karena Allah-, dan buku ini lebih mengedepankan seorang wanita yang teguh dalam menggenggam aqidah yang haq. Perbedaan yang lain adalah sudut pandang penulisnya menggunakan sudut pandang pertama sebagai pelaku utama.
“Selimut mimpi”, dari negeri wahyu membawa ilmu
Dikisahkan seorang gadis yang berusia 24 tahun. Gadis yang bernama Latifah berasal dari Lampung. Kali ini ia sedang berada di bandara hendak ke Arab Saudi. Bukan untuk ibadah haji, atau keperluan lainnya. Dia adalah salah satu dari sekian banyak calon TKW yang siap akan berangkat ke Negri Arab. Memang tampaknya berbagai bayangan negatif tentang TKW sering membuatnya was - was. Dari penyiksaan, pelecehan, hingga pembunuhan memang selalu muncul di berbagai media. Namun tampaknya itu tidak terlihat nyata dalam kehidupannya. Walau bagaimanapun, dia menyaksikan sendiri banyak TKW yang pulang ke kampungnya dengan banyak uang dan membuka usaha sendiri. Dengan iming - iming 800 riyal (sekitar 2 juta rupiah) sebulan, tampaknya gadis seperti Latifah juga tergiur olehnya.
Berbekal kemampuan bahasa arab ala kadarnya, kini sampai juga dia di rumah seorang yang kaya. Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Aburrahman At Tuwaijiri. Bayangan yang dulu bahwa majikan kejam, suka menyiksa dan sebagainya pupus sudah di sini. Ternyata Syaikh Sulaiman, istri dan seorang putrinya tak seburuk yang ia banyangkan. Majikannya sangat ramah, bahkan istri sering membantunya di dapur. Walaupun pekerjaannya sangat banyak dan melelahkan, ia jalani dengan senang hati. Suatu saat ada tamu istimewa yang datang berkunjung ke rumah majikannya. Tak lain tak bukan adalah Syaikh Hasan At Tuwaijiri, yang juga adik kandung dari Syaikh Sulaiman. Syaikh Hasan yang jauh lebih kaya dari kakaknya. Saat itu memang sedang membutuhkan pembantu, sebab sudah 6 bulan rumah besar Syaikh Hasan tak ada pembantu. Untuk itu, Syaikh Hasan berniat 'meminjam' Latifah selama 2 bulan saja.
Sebagai pembantu, tentu ia harus patuh pada majikannya, yang memang Syaikh Sulaiman lah yang menyampaikan hal tersebut ke Latifah. Di rumah Syaikh Hasan yang begitu besar ditinggali oleh Syaikh Hasan, istrinya, 3 putra dan 2 putri mereka, dan tak ketinggalan pembanntu dan sopir pribadi yang juga tinggal di situ. Walaupun Syaikh Sulaiman dan Syaikh Hasan adalah saudara, tapi keduanya memiliki sifat yang agak berbeda. Jika Syaikh Sulaiman lebih sedikit bicara, maka adiknya justru lebih los dalam berkata – kata. Tampaknya keluarga mereka juga berbeda. Keluarga Syaikh Sulaiman yang lebih adem ayem, ramah tamah, tak begitu dengan keluarga Syaikh Hasan. Apalagi anak – anaknya yang selalu ketus terhadapnya. Di sinilah banyak terjadi hal – hal yang membikin Latifah kesal dan juga merinding melihat kenyataan bahwa ternyata banyak 'hal janggal' yang terjadi di rumah ini. Apa saja itu?? ya silakan baca sendiri bukunya. Hehe,, Tapi di sini juga, pada hari Kamis malam, atas ajakan temannya, Latifah menghadiri sebuah kajian di Al Jaaliyyaat, semacam Islamic Center yang ada di kotanya. Kajian diisi oleh seorang ustadz dari Indonesia. Di sana sang ustadz berceramah tentang tauhid -persis dengan dakwah pertama Rasulullah- yang mampu mengubah 'hidupnya'.
Setelah beberapa bulan di rumah Syaikh Hasan, akhirnya beliau memutuskan untuk memulangkan Latifah ke majikan yang sebenarnya, yaitu Syaikh Sulaiman. Dua hari setelah kepulangannya, ada hal menarik yang ditawarkan oleh majikannya. Apa itu? Insyaallah ada ceritanya di buku. he... kehangatanLatifah di rumah ini semakin serasa saja, bahkan saat musim haji tiba, majikannya mengijinkan untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima itu. Subhanallah sekali....
Dua tahun kontrak di Arab Saudi telah dijalaninya. Kini Latifah siap untuk pulang kampung ke Lampung. Dengan membawa sejumlah uang hasil bekerja, dia pulang ke kampung halamannya. Di sana dia disambut oleh keluarga besarnya, ada paman – pamannya, sepupu – sepupunya, dan tentu saja ibu dan ketiga adiknya. Dalam pesta penyambutan itu, ada sedikit percikan api yang menyulut dan membuat hangat suasana. Apa yang terjadi? Silakan dibaca bukunya..... tapi sesungguhnya disinilah cerita ini dimulai, banyak lika – liku kehidupan yang bakal dialami oleh Latifah. Dari kisah dramatis kematian ibunya, kisah romantis bertemu pendamping hidupnya dengan segala goncangan dan terpaan masalah didalamnya, dan kisah – kisah yang menegangkan bersama dengan pamannya. Semua terangkum dalam buku sederhana ini. Dan, seperti tadi saya katakan, bahwa kepulangan Latifah ke tanah air sesungguhnya adalah awal dari cerita yang sebenarnya, maka resensi ini justru saya akhiri. Hehehe....
yang jelas ceritanya mengalun sederhana tanpa kata – kata kiasan yang berlebih, khas novel – novel picisan. Di dalamnya juga termuat pelajaran – pelajaran penting buat kita. Dari pelajaran tauhid sampai hukum rokok pun ada. Belum lagi ibrah yang bisa kita ambil dari sepenggal kisah anak manusia. Seperti buku tauhid dan fikih yang terangkum dalam sebuah kisah nyata. Subhanallah.... Membaca buku agamapun tak perlu mengkerutkan dahi. Alhamdulillah....



